25 Feb 2026
Loading...
Asia Grassroots Forum
Forum tahunan untuk kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan UMKM di Asia.
Amartha 10X Run
Ajang lari tahunan dengan berbagai kategori jarak yang diselenggarakan di Jakarta.
Amartha Level Up
Acara pengembangan diri dan karier dengan sesi interaktif dan peluang networking profesional.
Loading...

Sejak akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022, harga komoditi seperti minyak goreng terus meroket. Mulai dari angka Rp18.000,- hingga mencapai di atas Rp20.000 untuk di beberapa daerah perkotaan.
Kondisi minyak goreng langka adalah hal baru yang dialami masyarakat Indonesia. Tentunya, kondisi ini sangat menyulitkan terutama bagi masyarakat desa yang memiliki perekonomian mengenah ke bawah.
Lantas, apa solusi yang diberikan oleh pemerintah dalam menghadapi harga minyak goreng 2022 yang terus naik ini? Apa saja penyebabnya? Mari temukan jawabannya dalam ulasan ini.
Dari tahun 2020, pandemi Covid-19 terus berlangsung yang melumpuhkan banyak sektor bisnis dan perekonomian negara. Hal ini juga menjadi penyebab tingkat produksi CPO menurun drastis dan mempengaruhi proses distribusi logistik.
Karena dua faktor itulah, harga minyak kian meroket tajam. Sebab, terlalu banyak permintaan, tetapi jumlah produksi semakin turun.
Penyebab lainnya adalah karena pemasok minyak sawit mulai berkurang produksinya. Salah satunya ialah Malaysia yang menjadi salah satu di antara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Hal itu tentu mempengaruhi produksi minyak di beberapa negara, salah satunya Indonesia, yang berakibat ke harganya kian naik.
Faktor pertama yang menjadi penyebab naiknya harga minyak goreng ialah naiknya harga pada Crude Palm Oil (CPO) di dunia yang mencapai US$ 1.340/MT. Faktor lainnya yang mempengaruhi mahalnya harga minyak di pasaran saat ini adalah adanya lonjakan harga pada minyak nabati.
Kenaikan harga pada CPO dan minyak nabati terjadi karena adanya gangguan cuaca yang akhirnya menekan nilai produksinya hingga 3,5% di akhir 2021. Demand terus bertambah, tetapi supply sedikit, secara otomatis akan memberi dampak kenaikan harga minyak goreng yang cukup drastis.
Baca Juga: Dari Modal Kecil, Penjual Gorengan Ini Bisa Renovasi Rumah
Diperkirakan, pada tahun 2022 ini, jumlah produksi dari minyak nabati pun tidak akan berbeda dengan tahun sebelumnya. Jadi, dapat dipastikan bila harga minyak akan sangat kecil kemungkinannya untuk turun. Sebab, permintaan terus bertambah hingga mencapai sekitar 240,1 juta ton.
Meroketnya harga minyak juga dipengaruhi dari kebijakan pemerintah yang mewajibkan untuk mencampur 30% biodiesel dan 70% solar untuk mengurangi impor BBM. Sehingga dalam program B30 tersebut, pemerintah bisa menaikkan nilai devisa negara.
Akan tetapi, dalam kondisi yang tidak ideal ini, yang mana produksi CPO menurun dan kebutuhan akan minyak begitu tinggi, membuat program B30 dinilai merugikan. Sehingga, para pengusaha memberi usulan solusi minyak goreng mahal dengan mengurangi kewajiban mencampurkan minyak sawit dengan solar. Sehingga, minyak sawit dapat diarahkan untuk memperbanyak proses produksi minyak dan lonjakan harga pun dapat diredam.
Harga minyak goreng memang kian hari kian naik. Meskipun saat ini sudah mulai ada solusi dari pemerintah dengan adanya subsidi, tetapi akan lebih baik jika kamu berjaga-jaga dengan menyisihkan sedikit hasil gaji untuk investasi P2P Lending Amartha. Sehingga, ketika ada kenaikan harga lagi, kamu bisa tenang menghadapinya.
Pasalnya, berinvestasi di Amartha akan memperoleh imbal hasil hingga 15% per tahun. Kamu juga bisa memilih sendiri mitra usaha yang akan kamu danai. Jadi, rencanakan keuangan dengan baik bersama Amartha.
02 Mar 2026