Loading...
Asia Grassroots Forum
Forum tahunan untuk kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan UMKM di Asia.
Amartha 10X Run
Ajang lari tahunan dengan berbagai kategori jarak yang diselenggarakan di Jakarta.
Amartha Level Up
Acara pengembangan diri dan karier dengan sesi interaktif dan peluang networking profesional.
Loading...
07 Jul 2023 • 5 min read

Menjelang Hari Perempuan Sedunia yang dirayakan di bulan Maret ini, tema kesetaraan gender masih menjadi isu yang terus diperdebatkan, dan masih diperjuangkan.
Berdasarkan Laporan The Global Gender Gap Index 2020 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (World Forum Economic/WEF), Indonesia pada peringkat 85 dari 153 negara dengan skor 0.70 dalam data kesenjangan gender.
Angka tersebut sayangnya tidak mengalami perubahan dari tahun 2018. Peringkat tersebut masih tertinggal jauh dari negara-negara tetangga, seperti Filipina pada urutan 16, Laos pada urutan 43, Singapura pada urutan 54 dan Thailand pada urutan 75.
Di sisi lainnya, peringkat Indonesia berada di atas Vietnam yang duduk pada urutan 87, Brunei Darussalam pada urutan 95, Malaysia pada urutan 104, Myanmar pada urutan 114, dan Timor Leste pada urutan 117.
Indonesia diketahui mengalami perbaikan pada hal peran kepemimpinan perempuan dengan angka 55 persen dan menjadi negara ke-6 di dunia yang mayoritas kepemimpinan di bidang ekonomi dipegang perempuan.
Namun, persoalan pentingnya ialah bahwa partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja dan distribusi pendapatan masih rendah dengan angka 54 persen.
Pada bidang pendidikan dan kesehatan, skor Indonesia setidaknya telah mencapai skor 97.0. Namun, jika ditelisik pada sub indeks, angka literasi dan rasio partisipasi pendidikan dasar perempuan masih rendah, yaitu 94 persen perempuan dibanding 97 persen laki-laki, serta 91 persen dibanding 96 persen laki-laki.
Pada bidang politik, catatan ketimpangan masih terjadi walaupun kondisi tersebut dapat dikritisi dengan pencapaian representasi politik perempuan di parlemen pada Pemilu Legislatif 2019 lalu yang mencapai 20.87 persen.
Catatannya, ketimpangan tersebut masih besar pada representasi perempuan di kabinet. Bahkan, pada kabinet Indonesia Maju, jumlah angka perempuan turun, yakni ada lima orang perempuan dari 34 menteri di kabinet. Artinya, hanya terdapat 15 persen perempuan di kabinet dibandingkan periode lalu.
Sederetan data tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan di Indonesia masih butuh dorongan lebih. Padahal jika diberikan kesempatan yang sama, perempuan bisa melakukan berbagai hal sama, dan bahkan lebih baik dari laki-laki.
Hal ini didukung oleh pernyataan Christine Lagarde, Managing Director International Monetary Fund (IMF) yang menyatakan jika women empowerment bisa didorong lebih agresif, perekonomian suatu negara bisa meningkat hingga 35 persen. Data tersebut berasal dari hasil riset yang dilakukan oleh IMF.
Perlu diketahui, PBB memiliki misi 17 pembangunan dunia secara global. PBB memiliki agenda tahun 2030 bahwa ke-17 tujuan ini dapat direalisasikan. Isu tentang kesetaraan gender menjadi poin kelima misi pembangunan dunia ini.
Nah, untuk mendorong kesetaraan gender, sebenarnya ada 9 langkah yang bisa kita lakukan:

Amartha sebagai pelopor fintech Peer to Peer Lending (P2P Lending) yang telah memiliki izin usaha dan terdaftar di OJK terus berupaya mendukung pemberdayaan perempuan dalam sektor ekonomi di Indonesia.
Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2010 ini terus berfokus hingga kini untuk menyalurkan pembiayaan modal kepada para perempuan tangguh pengusaha mikro di pedesaan.
Amartha mendorong women empowerment melalui modal usaha serta pendampingan dan pelatihan rutin. Amartha juga turut menyediakan cek kesehatan gratis dan pemberian kacamata gratis guna menunjang produktivitas mitra.
Berdasarkan Laporan Akuntabilitas Sosial Amartha tahun 2019, 94.3% mitra usaha berhasil meningkatkan well-being mereka. Selain itu, 97.7% mitra dapat menyekolahkan anak-anak mereka, dan hanya 2% mitra usaha yang tidak memiliki sarana air bersih yang layak.
Selama 11 tahun terakhir, Amartha telah melakukan hal tersebut kepada lebih dari 600.000 perempuan pengusaha ultra mikro di pedesaan. Hasilnya, setelah 2 tahun bergabung, 41% mitra Amartha berhasil keluar dari garis kemiskinan.
Melalui Amartha #SaatnyaPerempuan pedesaan Maju, Bangkit, dan Berdaya!
Tags