25 Feb 2026
Loading...
Asia Grassroots Forum
Forum tahunan untuk kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan UMKM di Asia.
Amartha 10X Run
Ajang lari tahunan dengan berbagai kategori jarak yang diselenggarakan di Jakarta.
Amartha Level Up
Acara pengembangan diri dan karier dengan sesi interaktif dan peluang networking profesional.
Loading...

Istilah work life balance cenderung memisahkan antara dunia kerja atau profesional dengan dunia personal atau keluarga dengan proporsi waktu yang sama. Sekian jam untuk personal, sekian jam untuk pekerjaan.
Padahal faktanya pada setiap rentang waktu, kita memiliki prioritas yang berbeda.
Pada satu momen, kita dituntut untuk mengejar target pekerjaan yang diharapkan, disisi lain kita juga sering mengambil jam kerja untuk urusan personal dengan proporsi waktu yang terus berubah.
Baca Juga: Work Life Balance di Dunia Kerja? Mungkinkah?
David Sedaris dengan 'The Burners Theory' nya menegaskan bahwa Work-Life Balance itu tidak ada. Menurut Sedaris, manusia memiliki "four burners" sebagai berikut:
The Four Burners Theory mengatakan bahwa "in order to be successful you have to cut off one of your burners. And in order to be really successful you have to cut off two.”
Pada satu rentang waktu, kita memang harus memilih 2 hal dan "mengorbankan" 2 hal. Maka dari itu, hari ini kita mengenal istilah Work-Life Harmony atau Work-Life Integration.
Yang dimaksud dengan Work Life Harmony adalah bagaimana kita mengatur sedemikian rupa dengan menyatukan, mengintegrasikan, dan mengharmoniskan kehidupan personal dan pekerjaan.
Pada satu waktu, kita memakai jam kerja untuk mengurus anak. Disisi lain, kita menghabiskan malam untuk bekerja dan mengejar target-target pekerjaan yang ada.
Apalagi pada kondisi WFH seperti saat ini, dimana ruang kerja dan ruang personal menjadi satu kesatuan. Masalah-masalah personal dan pekerjaaan bercampur jadi satu.
Lalu, bagaimana produktivitas karyawan diukur?

Produktivitas tidak lagi diukur dari waktu kerja yang dihabiskan atau banyaknya aktivitas yang dilakukan, melainkan dari output atau outcome kerja yang dihasilkan.
Dengan asumsi karyawan pada kondisi mau dan mampu mengerjakan tugasnya, maka leader atau atasan diharapkan memberikan ruang belajar dan berkreasi kepada rekan kerja dalam menyelesaikan pekerjaan mereka.
Biarkan karyawan mengatur waktu mengharmoniskan antara urusan personal dan pekerjaan.
Pada perjalanan membangun produktivitas guna mencapai output kerja yang diharapkan itu, karyawan mungkin akan mendapatkan kendala, maka disinilah pentingnya karyawan mengkomunikasikan kendala yang mereka hadapi kepada leader.
Ada 2 hal yang membuat ini penting, yaitu sebagai berikut:
Baca Juga: WFH Lagi, Ini Sejumlah Aplikasi Pendukung Kerja Dari Rumah
Perihal ini, ada 2 hal mendasar yang memang perlu dipenuhi terlebih dahulu oleh leader, yaitu:
Perjalanan karir dan kontribusi kita di kantor adalah sebuah maraton, bukan sprint. Maka penting untuk menjaga ritme guna terus mengharmoniskan kehidupan personal dan profesional yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja kita secara berkelanjutan.
Ultradian Rhythm mengajarkan bahwa pada selang 90 menit bekerja, kita butuh "ultradian healing process", istirahat sejenak dan melakukan aktivitas yang berbeda.
Pada rentang 90 menit kita akan mencapai puncak performance pada kondisi optimal arousal. Namun jika terus dipaksakan, optimal arousal tersebut, akan menurun dan beralih ke stress.
Tags
25 Feb 2026