25 Feb 2026
Loading...
Asia Grassroots Forum
Forum tahunan untuk kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan UMKM di Asia.
Amartha 10X Run
Ajang lari tahunan dengan berbagai kategori jarak yang diselenggarakan di Jakarta.
Amartha Level Up
Acara pengembangan diri dan karier dengan sesi interaktif dan peluang networking profesional.
Loading...
07 Jul 2023 • 5 min read

Kesulitan ekonomi akibat pandemi global membuat banyak orang atau perusahaan mengalami financial distress. Maka dari itu diperlukan kesadaran dalam mengelola keuangan.
Melalui artikel ini, Anda akan mengenal lebih dalam mengenai financial distress. Simak penjelasannya di bawah ini!
Financial distress adalah suatu kondisi di mana seseorang atau suatu perusahaan tidak dapat menghasilkan laba atau keuntungan yang cukup sehingga tidak bisa membayar kewajiban mereka.
Financial distress umumnya banyak dipakai dan ditemui pada keuangan suatu perusahaan. Meskipun demikian, financial distress juga dapat dipakai oleh perorangan atau individu karena memiliki dasar yang sama, pendapatan yang tidak sesuai dengan pengeluaran.
Bisakah Merdeka Finansial dengan Gaji UMR?
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya financial distress. Secara garis besar, financial distress dapat disebabkan oleh pengeluaran yang lebih tinggi daripada pendapatan, aset tidak likuid yang sedikit, hingga kesalahan dalam merencanakan keuangan.
Bagi individu, financial distress biasanya disebabkan oleh tidak adanya perencanaan keuangan, memiliki banyak utang, pengeluaran yang besar, dan hilangnya sumber pendapatan.
Sementara bagi perusahaan, financial distress disebabkan oleh pengelolaan cash flow yang kurang baik, produk kurang laku, pengeluaran melebihi anggaran, biaya bahan baku yang tinggi, penyalahgunaan aset, hingga pengaruh perubahan kebijakan dari pemerintah.
Agar lebih memahami apakah saat ini sedang berada dalam kondisi finansial distress atau tidak, ada baiknya untuk melihat gejala-gejalanya.
Bagi seorang individu, gejala mengenai financial distress terjadi apabila seseorang kesulitan membayar kredit tepat waktu, tidak mencatat keuangan pribadi, memiliki utang lebih dari 30 persen, sering terpaksa meminjam uang pada keluarga atau teman, dan tidak memiliki dana darurat, tabungan, atau asuransi.
Adapun gejala financial distress suatu perusahaan yaitu mendapatkan margin keuntungan yang sedikit, pembeli tidak repeat order, tidak bisa membayar utang, dan kesulitan dalam mencapai Break Even Point (BEP).
Kebangkrutan seseorang atau suatu perusahaan memang tidak dapat terhindarkan. Akan tetapi kondisi tersebut bisa dicegah dengan hal-hal di bawah ini:
Langkah terakhir apabila sudah terjerat dalam financial distress adalah mengatasinya dengan kepala dingin. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
Cara pertama yang dapat dilakukan baik seseorang atau perusahaan yang mengalami financial distress adalah melakukan restrukturisasi kredit. Dalam hal ini adalah pemberian keleluasaan mengenai pembayaran kredit seperti penurunan suku bunga atau memperpanjang waktu kredit.
Waktu ini dapat dimanfaatkan untuk meninjau kembali bisnis plan atau catatan keuangan.
Baik individu atau perusahaan, cara kedua ini perlu diterapkan apabila mengalami financial distress. Untuk individu bisa dimulai dengan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu seperti hangout.
Sementara untuk perusahaan bisa dengan memangkat budget marketing, pemotongan gaji atau bonus, hingga yang paling parah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Cara yang terakhir ini lebih cocok untuk kasus financial distress yang dialami oleh individu. Misalnya dengan menjalankan bisnis online, bekerja freelance atau meningkatkan passive income melalui investasi.
Saat ini ada banyak instrumen investasi yang menawarkan keuntungan bersaing dengan modal kecil, contohnya adalah P2P Lending.
Cara kerja dari investasi P2P Lending adalah menghubungkan investor kepada peminjam melalui suatu platform secara online melalui website atau aplikasi. Pilihlah P2P Lending yang aman dan terpercaya seperti Amartha.

Amartha merupakan pioneer P2P Lending di Indonesia yang menghubungkan pendana di kota kepada perempuan pengusaha mikro di pedesaan melalui pendampingan dan pelatihan usaha.
Amartha mengadopsi sistem Grameen Bank yang dikemukakan oleh Muhammad Yunus, sehingga mitra tidak hanya mendapatkan modal usaha tetapi juga didampingi dan diberikan pelatihan yang sesuai agar dana pendana digunakan tepat sasaran dan dapat kembali tepat waktu.
Dari segi keuntungan, Amartha menawarkan bagi hasil hingga 15% flat per tahun. Amartha juga telah mendapatkan lisensi izin usaha dari OJK, lho.
Tertarik mendanai di Amartha?
Tags
02 Mar 2026