25 Feb 2026
Loading...
Asia Grassroots Forum
Forum tahunan untuk kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan UMKM di Asia.
Amartha 10X Run
Ajang lari tahunan dengan berbagai kategori jarak yang diselenggarakan di Jakarta.
Amartha Level Up
Acara pengembangan diri dan karier dengan sesi interaktif dan peluang networking profesional.
Loading...
07 Jul 2023 • 3 min read

Jakarta, 20 Mei 2022, Plenary Meeting Kedua G20 EMPOWER di Yogyakarta telah sukses dilaksanakan. Tema bahasan mengenai “collaborative ecosystem” penguatan UMKM Perempuan dilansir menjadi salah satu fokus utama dalam pertemuan G20 EMPOWER di Yogyakarta ini sesuai tema recover together, recover stronger.
Dalam pertemuan yang diselenggarakan, sejumlah undangan, Menteri, Investor serta para pembicara yang hadir di G20 EMPOWER sepakat bahwa kontribusi UMKM pada perekonomian negara selama pandemi dan masa pemulihan pasca pandemi sangatlah besar.
Melansir Siaran Pers Menteri PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Bintang Puspayoga menyatakan UMKM terbukti dapat memberikan kontribusi hingga 40% dari pendapatan nasional di negara berkembang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun, sayangnya UMKM yang dikelola perempuan paling terkena dampak pandemi Covid-19.
Di Indonesia, para perempuan tangguh telah memiliki dan menjalankan sekitar 50% dari sekitar 65,4 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh negeri. Dengan dua pertiga pemilik UMKM mengalami penurunan pendapatan karena pandemi, sebanyak lebih dari 45% UMKM terlibat hutang dan harus berjuang membayar tagihan, menurut survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada tahun 2020.
Baca Juga: Apa Itu G20 Indonesia? Berikut Penjelasan dan Sejarahnya
Alasan inilah yang membawa Pemerintah Indonesia berkomitmen kuat memberikan perhatian besar untuk UMKM yang dikelola perempuan, untuk bertahan dan juga tumbuh menjadi lebih kuat.

Dalam pertemuan G20 EMPOWER di Yogyakarta, sejumlah pembicara juga telah membahas beberapa poin penting untuk pengembangan perempuan di UMKM.
Aria Widyanto, Chief Risk and Sustainability Officer (CRSO) Amartha sekaligus Advocate G20 Empower menyatakan ada tiga elemen yang dapat disumbangkan oleh penyedia jasa keuangan seperti Amartha dalam mendorong UMKM perempuan di pedesaan menjadi lebih sejahtera. Pertama, dengan menyediakan produk keuangan digital yang fleksibel dan relevan bagi mereka. Kedua, dengan mengurangi hambatan dalam mengakses platform keuangan, melalui pendidikan dan fasilitasi. Dan ketiga, mengurangi biaya transaksi, seperti melalui konsep agen banking dan lebih memanfaatkan platform digital untuk memperluas akses bagi pemilik UMKM yang belum terjangkau.
"Amartha berkomitmen untuk mendukung proses pemulihan ekonomi pasca pandemi dengan menyediakan akses pembiayaan bagi 1 juta perempuan CEO pelaku usaha mikro dan UKM, serta melakukan pendampingan dan pelatihan literasi keuangan, kewirausahaan dan literasi digital — untuk partisipasi yang lebih setara di bidang ekonomi dan kesempatan kerja bagi perempuan di Indonesia." kata Aria.
Lebih penting lagi, kita harus ingat bahwa teknologi tidak boleh menciptakan cluster baru, yaitu kesenjangan digital. Oleh karena itu, memasukkan kelompok rentan ke dalam rancangan ataupun desain produk, serta memastikan transformasi berkelanjutan bagi komunitas yang tidak familiar dengan teknologi adalah kunci untuk memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal.
Sebagai informasi, Amartha merupakan perusahaan micro finance martketplace yang menghubungkan dan menyalurkan pendanaan dari pendana (lender) atau investor kepada perempuan pemilik usaha mikro di pedesaan melalui platform secara online. Tidak hanya menyalurkan pendanaan saja, tetapi Amartha juga memberikan pendampingan yang disertai edukasi keuangan dan digital secara rutin.
Tags
25 Feb 2026