Loading...
Asia Grassroots Forum
Forum tahunan untuk kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan UMKM di Asia.
Amartha 10X Run
Ajang lari tahunan dengan berbagai kategori jarak yang diselenggarakan di Jakarta.
Amartha Level Up
Acara pengembangan diri dan karier dengan sesi interaktif dan peluang networking profesional.
Loading...

Apakah kamu pernah mendengar istilah Latte Factor? Istilah Latte Factor bukanlah suatu jenis kopi melainkan sebuah kebiasaan kecil atau gaya hidup yang tanpa disadari bikin kita menjadi miskin.
Istilah Latte Factor merupakan istilah yang merujuk pada gaya hidup membeli barang kecil dan sederhana yang rupanya tidak kita butuhkan. Lambat laun, gaya hidup ini mempengaruhi kondisi kesehatan keuangan kita. Istilah ini dipopulerkan oleh David Bach.
Secara umum, Latte Factor mengacu pada pengeluaran kecil yang sifatnya rutin yang sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa ditiadakan. David mengambil kata latte dari secangkir kopi karena baginya kopi adalah pengeluaran kecil yang jika dijumlahkan dalam satu bulan bisa untuk membayar listrik.
Latte Factor sebenarnya tidak khusus ditujukan untuk kopi, hanya saja kopi adalah pengeluaran rutin yang biasa dilakukan oleh seorang pekerja khususnya milenial yang membeli kopi secara online.
Katakanlah ada seorang pekerja yang setiap hari harus minum kopi di sebuah kedai kopi ternama. Dia membeli secangkir kopi dengan harga Rp 30.000. Hitunglah, dalam sebulan pekerja itu sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 900.000.
Padahal kalau dia membeli kopi bubuk dan menyeduhnya sendiri, ia bisa menghemat setengah dari pengeluaran itu, kan? Lalu, apa saja yang termasuk ke dalam kategori pengeluaran Latte Factor?

Setiap bepergian kemanapun gak pernah bawa air minum karena bisa beli di tempat. Padahal dalam sehari kamu mengeluarkan uang Rp10.000 untuk beli air minum dan dalam satu bulan kamu sudah menghabiskan uang sebesar Rp300.000. Hmm, lumayan nih buat ditabung.
Transaksi sehari-hari melalui smartphone, tidak pernah membawa uang cash. Tanpa disadari transaksi tersebut ternyata mengeluarkan biaya lebih yang tidak disadari atas nama fleksibilitas. Nah, mulai sekarang siapkan uang cash yuk.
Mau ke mall seberang kantor males jalan naik transportasi online aja. Mau jajan di restoran sebelah pakai aplikasi transportasi online aja.
Iya, apa-apa pakai transportasi online aja. Boleh kok, tapi jangan sampai ketergantungan ya! Soalnya semua itu hal yang terlihat sepele tapi bisa mengeluarkan uang yang cukup besar kalau diakumulasikan setiap bulannya lho.
Bagi setiap orang, kopi memiliki arti masing-masing. Misalnya saja untuk gaya hidup atau meeting bersama klien untuk memenangkan project besar. Sayangnya, sebagian besar pegawai kantoran menjadikan kopi sebagai gaya hidup.
Nah hal yang demikian ini sesungguhnya tanpa disadari mengeluarkan banyak uang lho. Mari menghitungnya, satu cangkir kopi dengan harga minimal Rp25.000 dan dikali setiap hari selama satu bulan, hasilnya Rp750.000. Wow!
Bagi perokok, rokok adalah latte factor yang tanpa disadari menghabiskan sebagian pendapatan mereka. Begini hitungannya, dalam sehari seorang perokok menghabiskan satu bungkus rokok seharga Rp20.000 maka dalam satu bulan si perokok mengeluarkan uang sebesar Rp600.000. Ada baiknya kebiasaan ini dikurangi sehingga uang dan tubuhmu sama-sama sehat.
Nah, sudah tahu kan barang yang masuk dalam kategori latte factor. Coba kamu tabung uang itu atau melakukan investasi. Saat ini ada banyak instrumen investasi yang bisa kamu coba dengan modal yang kecil, misalnya P2P Lending Amartha.
Amartha adalah perusahaan investasi P2P Lending aman dan terpercaya yang sudah berizin usaha Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di Amartha, kamu bisa investasi modalin mitra usaha mulai dari Rp100.000 saja dan mendapatkan keuntungan bagi hasil hingga 15% flat per tahun. Jauh lebih menguntungkan, bukan? Yuk, daftar sekarang!
Tags