25 Feb 2026
Loading...
Asia Grassroots Forum
Forum tahunan untuk kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan UMKM di Asia.
Amartha 10X Run
Ajang lari tahunan dengan berbagai kategori jarak yang diselenggarakan di Jakarta.
Amartha Level Up
Acara pengembangan diri dan karier dengan sesi interaktif dan peluang networking profesional.
Loading...

Tanggal 21 April adalah hari lahir pahlawan nasional yang membela perempuan, siapa lagi jika buka Raden Ajeng Kartini. Ia merupakan sosok yang sangat penting di dalam emansipasi perempuan di Indonesia.
Inilah alasan mengapa di setiap tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari lahirnya agar dapat mengenang jasa-jasa yang ia lakukan untuk memperjuangkan kesetaraan gender.
Biasanya, setiap tanggal 21 April, banyak sekolah maupun kegiatan di luar sekolah yang mengajak anak untuk menyambut hari lahirnya.
Sebagai salah satu pahlawan nasional, bukan hanya sekedar merayakan namun penting untuk mengetahui sejarah singkat mengenai pahlawan yang sudah membela para perempuan ini. Berikut sejarah yang ia miliki:
Pahlawan ini merupakan perempuan yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Ia lahir pada tanggal 21 April tahun 1879. Raden Ajeng berasal dari kalangan bangsawan Jawa serta putri dari Bupati Jepara yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat serta M.A Ngasirah.
Ia lahir di jaman penjajahan. Pada masa tersebut, tidak ada kesetaraan antara laki-laki serta perempuan. Bahkan, perempuan tidak diizinkan pergi ke sekolah serta bekerja. Tidak sedikit orang yang beranggapan jika tugas perempuan adalah tinggal di rumah serta melayani suami.
Dari sini, pemikiran Raden Ajeng pada berbagai masalah termasuk tradisi yang menindas, poligami dan pernikahan paksa bagi perempuan Jawa serta pentingnya pendidikan untuk anak perempuan muncul. Pemikiran tersebut ia tulis dalam beberapa surat yang dikirimkan ke teman Belandanya.
Ia memiliki kakak dengan nama Sosrokartono. Kakaknya merupakan orang yang pandai di bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, ia diperbolehkan bersekolah di Europese Lagere School, di sana ia belajar bahasa Belanda.
Sosok Kartini juga digambarkan sebagai perempuan yang mempunyai kegemaran belajar. Meskipun pernah merasakan diskriminasi ketika sekolah, ia tetap rajin membaca buku yang dimiliki mulai dari majalah, hingga surat kabar yang menulis mengenai pergerakan emansipasi perempuan di negara Eropa.
Baca Juga: Pemberdayaan Perempuan Jadi PR Indonesia Untuk Tingkatkan Kesetaraan Gender
Dari berbagai macam buku hingga majalah Eropa yang dibacanya, ia mulai tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan Eropa. Inilah yang membuat rasa keinginannya untuk mewujudkan perempuan pribumi mempunyai kesetaraan gender.
Perjuangan Kartini dimulai dengan mendirikan sekolah untuk para perempuan agar dapat menempuh pendidikan di sana. Tujuannya membangun sekolah, agar ia bisa mengajarkan pada perempuan pribumi untuk memperoleh pengetahuan serta dapat mewujudkan cita-citanya yakni kesetaraan gender.
Kata-kata habis gelap terbitlah terang menjadi hal yang sangat identic dengan sosok pahlawan nasional ini. Hal ini bukan tanpa alasan karena kata-kata ini banyak dibicarakan serta menjadi buku tulisannya yang membahas mengenai emansipasi wanita.
Selama masa hidupnya, ia selalu berkomunikasi dengan sahabat penanya di Eropa dari surat. Selain itu, ia bercerita mengenai keinginannya seperti kaum perempuan Eropa yang bebas dari penderitaan di masa tersebut.
Sepeninggal dirinya, J.H Abendanon yang menjadi Menteri Kebudayaan, Agama Kerajaan Hindia Belanda mengumpulkan semua surat dan membuatnya menjadi buku.
Perjuangan Raden Ajeng Kartini memang begitu menyentuh. Sebagai wanita, saat ini kamu sudah diberi kebebasan, termasuk dalam hal investasi.
Kamu dapat mencoba mulai berinvestasi di P2P lending yang juga mendukung perempuan untuk lebih sejahtera secara finansial di Amartha. Modal yang kamu salurkan akan dimanfaatkan untuk usaha para CEO UMKM perempuan di pedesaan.
Ada keuntungan imbal hasil sampai 15% flat per tahun yang bisa kamu dapatkan. Ayo modalin!
02 Mar 2026